Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Budaya. Tampilkan semua postingan

02 Januari 2010

Pendidikan yang Kian Mengasta (Bagian 2)

Oleh Teguh Priyanto

Madania, Progressive Indonesian School, Bogor. Sekolah nan luas dan asri itu dilengkapi dua kolam renang “semi olympics”, dua lapangan “mini soccer”, “hall” dengan empat lapangan bulu tangkis, lapangan basket dan tennis “indoor”, dua studio musik kedap suara, dan saung lengkap dengan perlengkapan ensemble tradisional dari Jawa dan Sunda.
Siswanya tak perlu berdesak-desakan dalam kelas nan sumpek, karena ruang kelasnya yang berukuran 8X8 meter persegi, seluruhnya berpendingin udara, berkarpet dan hanya perlu diisi oleh 24 siswa.

Kebersihannya selalu terjaga, karena setiap “remah” tanah yang tertinggal dari jejak sepatu siswa di lantai lobi atau koridor kelas akan segera dilap hingga mengilap oleh belasan “office boy” (OB). OB juga akan dengan sigap mengeringkan lantai, tatkala seorang siswa menumpahkan bekal makanan atau minumannya.
Perpustakaannya mengoleksi ribuan buku berkualitas, sebagian diimpor langsung dari penerbit luar negeri yang berkelas internasional. Untuk mencari referensi, siswa sekolah itu tak perlu melihat berjibun katalog manual yang memusingkan. Cukup ketik kata kunci, seketika mesin katalog digital akan menampilkan berbagai judul buku, lengkap dengan nama pengarang, penerbit, dan ilustrasi pendek tentang isi buku itu.
Di sekolah itu juga terdapat tiga laboratorium komputer yang terhubung dengan akses internet berkecepatan tinggi. Seluruh gedung sekolah merupakan area “hotspot” Wifi. Siswa yang ber-laptop tinggal mengklik “internet explorer” atau “mozilla firefox”, langsung terhubung dengan koneksi internet dunia maya.
Belum cukup. Demi menjamin mutu kependidikannya, sekolah ini merekrut guru-guru terbaik, berkemampuan bahasa asing “excellent” dan dengan skill mengajar mumpuni.
Gurunya tak melulu dari IKIP atau jurusan keguruan dan ilmu pendidikan, tapi juga dari lulusan pascasarjana universitas terkemuka dalam dan luar negeri. Sebelum terjun ke kelas mereka ditraining secara intensif, demi menjamin kualitas pengajaran di kelas.
Komunitas sekolah, menyebut sekolah mereka sebagai “sekolah berwawasan internasional”, sebelum akhirnya direktur utama sekolah ini “atas saran konsultan marketing nomor wahid, Hermawan Kartadjaja” menggantinya dengan “tag line” baru “Progressive Indonesian School” (PIS).
Menurut sang begawan marketing itu, sekolah ini harus melakukan “positioning” baru, karena sebutan “sekolah berwawasan internasional” (SBI) yang disematkan 10 tahun lalu terasa kian hambar, setelah banyak sekolah serupa menempelkan atribut “internasional” di belakang nama sekolah mereka.
Bahkan terakhir Departemen Pendidikan Nasional juga “ikut-ikutan” membuat istilah sekolah berstandar internasional (SBI), sangat mirip dengan “tag line” sekolah yang berlokasi di Perumahan Telaga Kahuripan Bogor itu.
Saat peluncuran logo baru Madania beberapa waktu lalu, Manajemen Representative Sekolah Madania, Ardina Utomo memastikan anak-anak yang bersekolah di Sekolah Madania, diasah otaknya, kreatitasnya, nuraninya, dan spiritualitasnya, seperti sesanti mereka, “mind, heart, spirit”.
Mereka juga digembleng kepekaan dan tanggungjawabnya terhadap lingkungan sekitar melalui program “Community Service”. Program ini bertujuan untuk mendekatkan siswa-siswi Madania, dengan realitas kehidupan yang sebenarnya.
“Anak-anak kami ajak untuk lebih peduli dengan sesama. Mereka misalnya, harus magang di panti jompo, membuat proyek perpustakaan rakyat, dan menjadi relawan saat terjadi bencana,” kata koordinator “Community Service” Sekolah Madania, Yohanna Siahaan.
“Community Service” merupakan menu wajib yang harus ditempuh siswa kelas 10-12 (setingkat SMA) sebelum mereka lulus. Bagi Yohanna “Community Service” merupakan antitesis, yang dapat mencegah anak-anak “terutama SMA” terjerembab dalam krisis moral dan apatisme terhadap sesama.
Madania adalah juga sekolah yang terafiliasi dengan Global Assesment Certification (GAC), organisasi internasional penjamin mutu yang menjadi jembatan penghubung siswa sekolah itu dengan komunitas pendidikan internasional.
Dengan mengantongi sertifikat GAC, siswa Madania seolah memiliki tiket “tol” untuk masuk ke perguruan tinggi terkemuka di luar negeri. Anak yang lulus program GAC tak perlu lagi mengikuti kelas persiapan (preparation) jika hendak sekolah di luar negeri.
Lalu siapa saja anak beruntung, yang dapat menikmati suasana pembelajaran dan mutu pendidikan sebaik itu?
Adalah setiap anak yang orangtuanya “rela” menginvestasikan dananya sebesar Rp 45 juta untuk membayar Sumbangan Sarana Pendidikan (SSP) setiap enam tahun dan menebus Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) Rp1,5 juta perbulan persiswa.
Uang sebanyak itu tidak termasuk untuk membayar katering yang disediakan sekolah, ekstrakurikuler yang gurunya didatangkan dari luar serta antarjemput siswa.
“Dengan segala `tetek bengek’-nya, total biaya satu anak, ya, sekitar Rp2,5 juta lah perbulan,” kata salah satu orangtua siswa.
Jadi tinggal mengalikan, berapa biaya yang dibutuhkan jika ada orangtua yang menyekolahkan dua atau tiga anak di sekolah itu!
Bumi dan Langit
Sekolah Madania dan Sekolah Dasar Filial Ujung Alang I adalah dua sekolah laksana bumi dan langit, meskipun keduanya berpijak pada tanah yang sama; Indonesia. Bahkan keduanya pun masih berada dalam pulau yang sama; Jawa.
Potret dua sekolah itu adalah bukti bahwa amanat konstitusi tentang pemerataan pendidikan bagi seluruh warga negara hanya galak di “kertas”, tapi “ompong” dalam pelaksanaanya.
Di Indonesia, sekolah bermutu baik seperti Sekolah Madania memang tidak bisa dibilang sedikit. Sebutlah, Sekolah Bina Nusantara, Sekolah Highscope, Sekolah Pelita Harapan, Sekolah Tiara Bangsa, Sekolah Al Izhar, Sekolah Lab Schools, Sekolah Bogor Raya, Sekolah Global Jaya, Sekolah Pembangunan Jaya, Sekolah Fajar Hidayah, Sekolah Dian Harapan, Gandhi Memorial School atau Sekolah Dwiwarna.
Belum lagi sekolah internasional yang juga memberi kesempatan belajar bagi anak-anak Indonesia, seperti Jakarta International School (JIS), Singapore International School, Germany International School (GIS) dan British International School.
Sekolah-sekolah itu merupakan sekolah yang terbilang lebih dari memadai dalam hal prasarana, pengajar maupun mutu kependidikannya. Bahkan tak kalah dengan sekolah-sekolah di luar negeri.
Sayangnya, sekolah-sekolah itu hanya bisa digapai oleh pemilik “kasta” berpunya. Kasta puncak dalam piramida ekonomi masyarakat Indonesia, yang “dihuni” tak lebih dari 10 persen dari jumlah penduduk.
Undang-Undang No 20 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan agar 20 persen anggaran negara digunakan untuk menyokong pendidikan sejauh ini juga tak banyak membantu meredam “kastanisasi” pendidikan di Tanah Air.
Padahal seperti dituturkan Pengamat Pendidikan Darmaningtyas, semestinya negara tak hanya bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan untuk seluruh masyarakat (“education for all), tetapi lebih dari itu menyelenggarakan pendidikan bermutu untuk semua (“the best education for all”).

Teguh Priyanto, wartawan Antara

Selanjutnya...
Bookmark and Share

Pendidikan yang Kian Mengasta (Bagian 1)

Oleh Teguh Priyanto

Sudra!
Jika pendidikan punya kasta, kasta terendah inilah yang pantas disandangkan pada Sekolah Dasar (SD) Filial Ujung Alang I, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Sejatinya sekolah di kaki bukit utara Pulau Nusa Kambangan itu tak layak disebut sekolah.
Bangunannya lebih mirip kandang ternak. Lantainya tanah, amat berdebu kala musim kemarau, dan becek ketika musim hujan tiba. Dindingnya anyaman bambu yang sudah lapuk dan rombeng, dengan sejumlah lubang menganga yang cukup untuk laluan unggas bahkan kambing.

Atapnya tak akan pernah mampu untuk menghalau hujan apalagi jika turun deras, karena hanya terdiri dari genteng usang kualitas rendahan, yang telah banyak retak di sana-sini. Tidak pula ada plafon, sehingga ketika badai “yang kerap menghampiri pesisir pantai Cilacap” datang, seluruh yang berteduh dibawahnya pasti akan basah kuyup. Atau jika tak beruntung mereka mungkin akan tertimpa atap itu, karena tiang penyangga bangunan telah lapuk dan reyot.
Tak ada penanda jika bangunan itu sebuah sekolah. Tak ada “plang” nama dengan papan paling serderhanapun, apalagi baliho atau “banner” mencolok seperti banyak dijumpai di sekolah-sekolah unggulan.
Bahkan bangunan tua itu nyaris tenggelam oleh lebatnya hutan bakau dan rerimbunan pohon-pohon sengon dan albiso, yang banyak yang ditanam penduduk seantero Ujung Alang.
Sesungguhnya bangunan SD Filial Ujung Alang I memang bukan sekolah, tapi balai warga yang dipinjamkan kepada Wartati (47), relawan yang telah mengabdi pada pendidikan terpencil di Kampung Laut selama lebih dari 22 tahun.
Tati, demikian sapaan akrab Wartati, mendapat mandat mendirikan SD Filial itu pada 2002 lalu, setelah dinilai sukses membuat sekolah sejenis sembilan tahun lalu dan lebih dari dua dasawarsa membimbing pendidikan anak-anak usia dini (PAUD) di Ujung Alang.
Tati memang relawan dalam pengertian yang sesungguhnya, karena selama karier mengajarnya ia tak pernah mendapat upah layak. Sebagai guru wiyata bakti. Honornya saat ini hanya Rp200 ribu, itupun kadang tak datang setiap bulan.
“Hanya cukup untuk ongkos ojek dua minggu,” kata Tati, saat penulis bertandang ke sekolahnya, yang dari jantung kota Cilacap harus ditempuh dengan perahu “compreng” melalui dermaga Sleko selama lebih dua jam dan masih harus dilanjutkan berperahu “jungkung” bermesin tempel sekitar satu jam.
Rumah Tati juga tak bisa dibilang dekat, sekitar tujuh kilometer dari SD Filial Ujung Alang I. Saat kemarau Tati relatif mudah menjangkau sekolah. Dengan menumpang ojek, ia hanya butuh waktu tak lebih dari setengah jam. Ongkosnya juga hanya Rp7.000 sekali jalan.
Namun saat musim penghujan datang dan jalan tanah liat berubah menjadi “bubur tanah” nan licin dan ojek tak mampu menembusnya, Tati harus berjalan kaki selama lebih dari satu setengah jam. Terkadang Tati memilih untuk melintasi jalur alternatif memutar, yang waktu tempuhnya sekitar sejam.
Jalur alternatif yang dimaksud Tati tak lain adalah anak-anak sungai di laguna Segara Anakan. Jika melintas jalur ini, ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa jungkung, Rp20 ribu sekali jalan.
Meski lebih dari 20 tahun menjalani profesi sebagai guru wiyata bakti, Tati tak lagi banyak berharap dapat diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia pasrah menjadi guru wiyata bakti hingga akhir pengabdiannya.
Apalagi kini, ijasah Sekolah Menengah Pertanian Atas (SMPA)-nya semakin tak laku meski hanya sebagai prasyarat daftar tunggu masuk CPNS.
Nasib Tati memang lebih buruk dari Bu Mus (Muslimah Hafsari), guru sekolah Muhammadiyah di Pulau Belitung, yang digambarkan Andrea Hirata dalam novel memoarnya, Tetralogi “Laskar Pelangi”.
Di akhir kisah, penulis “best seller” itu melukiskan, meski SD Muhamadiyah di Belitung, tempat si Ikal (nama panggilan Andrea Hirata dalam memoar itu) belajar akhirnya bubar, Bu Mus masih berkesempatan mengecap nikmatnya menjadi PNS dan kini ia mengajar di sekolah negeri yang cukup memadai.
Tapi Wartati tidak, ia tetap menjadi guru bantu di saat salah satu dari dua anak perempuannya telah memberinya cucu.
“Sudah terlalu tua, Mas. Saya hanya berharap anak saya, Nela yang lulusan D2 PGSD bisa lebih beruntung, jadi PNS,” katanya.
Nela, yang memiliki nama lengkap Nela Vita Setyorini (22) kini juga menjadi guru wiyata bakti di SD Filial Ujung Alang 3, sekolah yang juga pernah dirintis ibunya. Nela telah lebih dari tiga tahun jadi guru bantu, tapi juga belum diangkat.
Papan tulis “2 in 1″
Balai warga yang dipinjam untuk kegiatan SD Filial Ujung Alang I, bukan tempat yang luas. Hanya berukuran 4X8 meter persegi. Padahal sekolah itu memiliki delapan siswa kelas 1, delapan siswa kelas 2 dan tujuh siswa kelas 3.
Oleh Sugeng (35), orang yang turut membantu Tati mengasuh siswa sekolah tersebut, ruang balai warga disekat menjadi dua. Satu untuk Kelas 1 dan 2 dan lainnya untuk kelas 3.
“Sekatnya ya pakai papan tulis ini,” ujar Sugeng, pria yang sempat mengecap bangku Sekolah Teknik (setara SMP) tapi tak tamat itu.
Papan tulis itu merupakan papan tulis dua sisi. Jadi selain berfungsi sebagai penyekat, kedua sisi papan tulis bisa digunakan untuk menulis secara bersamaan oleh kelas 3 di satu sisi dan kelas 1 dan 2 di sisi yang lain. Sementara Tati dan Sugeng secara bergantian mengajar tiga kelas itu sekaligus, tepat di “episentrum” ruangan itu.
Sejak dua tahun lalu, SD Filial Ujung Alang menerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bantuan pendidikan dari pemerintah pusat yang diakui Tati sangat membantu kegiatan belajar di sekolahnya. Dengan BOS, anak-anak di sekolah itu bisa melengkapi diri dengan alat tulis sederhana. Sebelumnya alat tulis menjadi barang langka dan mewah bagi sekolah ini.
“Tak tahu apa jadinya jika jika BOS tahun ini dicabut. Karena tahun ini belum ada kabar, BOS bakal turun lagi atau tidak,” kata Tati.
Jangan tanya tentang prasarana lain di Sekolah Filial Ujung Alang I. Tidak ada laboratorium komputer, perpustakaan, atau sekedar alat peraga di sekolah itu. Rak buku di pojok ruang pun hanya berisi beberapa lembar buku kumal.
“Ada beberapa buku sumbangan, tapi saya simpan di rumah. Karena jika disimpan di sini takut basah dan kebocoran. Jika ingin baca, anak-anaklah yang pergi ke rumah saya,” kata Sugeng, yang rumahnya memang tak jauh dari sekolah.
Cara belajar SD Filial Ujung Alang sangatlah sederhana. Bu Tati atau Pak Sugeng menyalin bahan bacaan ke papan tulis, lalu anak-anak menyalin kembali di buku tulis mereka nan kumal.
“Raden Werkudara punika satria ing Jodipati” (Bima adalah ksatria dari Jodipati). Demikian antara lain kalimat yang disalin anak-anak kelas 2 SD Filial Ujung Alang I, saat mereka menerima pelajaran bahasa Jawa.
Tapi toh, Tati dan Sugeng sangat bersuka cita tatkala pada akhir tahun ini hampir seluruh anak didiknya meneruskan sekolah ke SD inti, SD Ujung Alang I di Motehan, yang jaraknya sekitar setengah jam perjalanan dengan perahu jungkung.
“Mereka anak-anak yang sangat bersemangat. Buktinya anak-anak sini nilai UASBN bagus-bagus, yang tertinggi 33,? ujar Tati bangga. Jika dua tahun lalu hanya 10 persen anak SD Filial Ujung Alang yang melanjutkan ke SMP, setelah pemerintah membuka SMP Negeri di Kampung Laut, berdekatan dengan dermaga Ujung Alang, 90 persen anak-anak itu melanjutkan sekolah.
Kelak mereka juga bakal melanjutkan ke SMA Negeri di Kleces, ibukota kecamatan Kampung Laut.

Teguh Priyanto, wartawan Antara
sumber : AAMeried COUPLE

Selanjutnya...
Bookmark and Share

01 Juli 2009

Pemerhati Masalah Perempuan : Kesetaraan Jender Ternyata Ciptakan Eksploitasi Terhadap Perempuan

Pemerhati Masalah Perempuan, Asri Supatmiati di Jayapura, Rabu menyatakan, gagasan kesetaraan jender yang saat ini banyak diusung kaum feminis ternyata hanya menciptakan jalan untuk mengeksploitasi para perempuan.

"Para feminis ini menghendaki agar kaum perempuan diberi hak-hak yang setara dengan laki-laki dengan menghilangkan diskriminasi," ujarnya.

Selanjutnya dia menjelaskan, para feminis menganggap kewajiban para perempuan di dalam kehidupan rumah tangga sebagai beban yang menghambat kemandirian sehingga harus disingkirkan walaupun dengan cara mereduksi nilai-nilai budaya dan agama. Misalnya peran sebagai ibu untuk mengandung, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga.
Sementara itu, sistem kehidupan kapitalisme yang saat ini diterapkan hampir di seluruh bidang kehidupan masyarakat, menuntut para perempuan juga harus mampu menghasilkan materi sebagai perwujudan eksistensi dan aktualisasi diri mereka di ranah publik.

Akibatnya, perempuan yang berusaha menunjukkan jati dirinya di dunia kerja yang pekat dengan nilai-nilai kapitalisme dengan meninggalkan kehidupan domestik justru terjebak dalam sistem kehidupan ini sehingga memurukkan harkat dan martabatnya.

"Para perempuan ini, antara sadar dan tidak, menjadi ujung tombak dalam sistem ekonomi kapitalisme. Jadi model, sales promotion girl, public relation sampai profesi sebagai pelobi hampir selalu berada di pundak mereka untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah," tandas Asri.

Di sisi lain, perempuan terdidik yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tidak luput dari lingkaran eksploitasi. Menurut Asri, tenaga dan pikiran mereka diperas habis-habisan untuk menggerakkan roda-roda perekonomian dengan lebih banyak menghabiskan waktu di gedung-gedung perkantoran daripada di rumah.

Bahkan, eksistensi perempuan di ranah publik kapitelisme justru semakin mendudukkan posisi mereka dalam kubangan libido laki-laki yang tidak punya benteng iman dan takwa.

Oleh karena itu, Asri menegaskan gagasan kesetaraan jender adalah racun bagi kaum perempuan sendiri.

Gagasan yang berasal dari dunia barat ini, bukan merupakan jalan terbaik untuk mengentaskan persoalan perempuan.

Sebaliknya, menyetarakan posisi perempuan dan laki-laki menimbulkan persoalan baru bagi perempuan dan bahkan masyarakat pada umumnya. Seperti tingginya angka perceraian yang melahirkan orang tua tunggal, rendahnya angka natalitas, maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan dan lain sebagainya.

"Masyarakat jangan tertipu dengan ide kesetaraan jender, jika ingin menyelamatkan generasi dan bangsa dari kehancuran," tegas Asri.(*)

sumber : Antaranews

Selanjutnya...
Bookmark and Share

06 Mei 2009

KPAN: Seks Bebas Penyebab Utama AIDS

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyebutkan bahwa seks bebas kini menjadi penyebab utama dari HIV/AIDS. Padahal, bertahun-tahun sebelumnya narkoba suntik dianggap menjadi penyebab utama penyakit mematikan itu.
"Dua tahun lalu, narkoba suntik masih menjadi penyebab utama. Tapi sekarang 55% disebabkan seks bebas, 42% karena narkoba suntik, dan sisanya penyebab lain," kata Sekretaris KPAN Nafsiah Mboi, di Surabaya, Selasa (5/5).

Menurut dia, 55% seks bebas yang menjadi penyebab utama HIV/AIDS itu meliputi 48,4% akibat seks bebas secara heteroseksual (beda jenis), 3,7% homoseksual (sesama jenis), dan sisanya akibat penularan dari ibu ke bayi.
"Itu data terakhir yang dihimpun Depkes RI per tanggal 31 Maret 2009, dengan jumlah penderita 23.632 orang. Dari jumlah itu tercatat 6.668 orang masih terinfeksi HIV. Namun, 16.964 orang sudah positif terinfeksi AIDS. Yang meninggal dunia ada 3.492 orang," paparnya.
Dalam pertemuan aktivis KPA dari tiga provinsi selama empat hari (4-8 Mei) yang dibuka Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Saifullah Yusuf, hal yang paling memprihatinkan adalah 80% penderita HIV/AIDS berumur 20-39 tahun atau generasi muda.
"Karena itu, upaya pencegahan infeksi HIV/AIDS kepada kaum muda. Terutama mereka yang berisiko. Kemudian perawatan bagi mereka yang sudah terinfeksi dan langkah-langkah mengatasi hambatan sistem perlu dirumuskan dalam pertemuan di Surabaya," katanya.

Sumber :
inilah.com

Komentar :
Dengan demikian kondomisasi seperti yang dilakukan dengan membagi-bagi kondom atau menyediakan ATM kondom jelas merupakan solusi palsu belaka. Islam telah memberikan solusi atas masalah ini yaitu dengan menjauhi perbuatan zina. Dalam hal ini peran negara sangat menentukan. Apabila negara menerapkan sistem kehidupan Islam, menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat dengan sistem ekonominya, memberi kemudahan bagi pemuda - pemudi yang ingin menikah, dan memberi sanksi tegas atas pelaku zina maka tidak ada lagi dalih untuk melakukan perzinaan yang dalam data di atas menjadi penyebab utama bagi penyebaran HIV / AIDS

Selanjutnya...
Bookmark and Share

29 April 2009

Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo : Tidak Ada Hukum Pidana Bagi Pelaku Poligami

Salah satu tim formatur RUU Peradilan Agama, Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo menjelaskan, draft RUU di antaranya membahas pelaku poligami, nikah siri, dan kawin kontrak. “Banyak masyarakat yang salah paham. RUU Peradilan Agama yang kini sudah berada di tangan Setneg tak ada ketetapan pidana bagi pelaku poligami.

“Boleh jadi itu kesalahan wartawan dalam menginterpretasikan berita,” tegasnya.

Menurut ia, kawin kontrak dan nikah siri memang ada hukum pidananya, sebab selama ini cukup meresahkan pihak perempuan dan tidak memiliki payung hukum yang kuat. Hanya pada draft RUU tersebut tidak ada pembahasan hukuman pidana bagi pelaku poligami.

“Tidak ada hukum pidana bagi pelaku poligami, yang ada adalah untuk nikah siri dan kawin kontrak,” tutur Huzaemah.
Menurut pakar hukum Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, sifat RUU yang baru itu hanya mempersulit pelaku poligami. Jadi bukan melarang.

Sikap NU

Sementara itu, beberapa organisasi massa Islam mulai bereaksi. Ketua PWNU Jatim, KH, Miftakhul Akhyar masih optimis RUU tak akan mempidanakan pelaku poligami. Namun seandainya benar jika RUU bersangkutan ada pasal pemidanaan, organisasinya tak akan tinggal diam.

“Jika RUU itu disetujui presiden dan sampai ke DPR, kami akan mengumpulkan seluruh PWNU untuk mengecam dan memprotes,” ujar Kiai Akhyar.

Menurut Kiai Akhyar, gerakan yang bernafsu dan berusaha mempidanakan pelaku poligami adalah aktivis perempuan dan aktivis liberalisme. “Padahal poligami jika dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat Islam, bisa menjadi solusi. Apalagi melihat banyak tragedi perselingkuhan dan pemerkosaan di era seperti ini.”

“Ah, seperti tidak ada kerjaan saja, poligami dipidanakan. Poligami itu boleh dalam Islam. Kalau mampu poligami biarkan saja. Jangan dipermasalahkan,” tutur Akhyar.

sumber : SuaraMedia.com

Selanjutnya...
Bookmark and Share

21 April 2009

Min adz-Dzulumaati ilaa an-Nuur (Habis Gelap Terbitlah Terang)

Oleh : Felix Siauw

Tanggal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Sebagian masyarakat beranggapan, Kartini memperjuangkan Emansipasi, Feminisme, Liberalisme, dll. Nama Kartini mereka jadikan legalisasi atas apa yang mereka lakukan. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak ada hubungannya sama sekali? Maka kita perlu meninjau kembali perjuangan Beliau.

Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadat serta tata cara ningrat jawa, feodalisme, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat. Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja”
Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa dimana seseorang diukur dengan darah keningratan. Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya. Ini terlihat dalam suratnya pada Stella pada tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!”

Kartini berupaya untuk memajukan kaum wanita di masanya (masa penjajahan). Pada saat itu wanita tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki, mereka dinomorduakan, bahkan dalam segala aspek kehidupan. Perjuangan Kartini tidaklah berarti untuk menyaingi laki-laki, namun memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat. Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Selain itu juga dapat dilihat dari suratnya kepada Nyonya Abendanon, 4 September 1901: “Pergilah! Laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik (haq) dan mana yang jahat (bathil). Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi”. Dengan demikian, perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.

Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, namun pada dasarnya ia tidak memperjuangkan dan tidak menginginkan emansipasi dan feminisme. Keterpengaruhannya oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, dikarenakan ia belum memahami Islam secara benar. Ia mengaji dan membaca Alqur’an tetapi tidak dapat memahai isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Kartini merasa kecewa dan ini diungkapkan pada suratnya yang ditujukan kepada Abendanon, tertanggal 15 Agustus 1902 : “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.

Selain itu Kartini memang banyak bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, seakan-akan mereka adalah orang yang ingin menolong Kartini, namun sebenarnya mereka adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah Mr.J.H. Abendanon (memperalat Kartini untuk membaratkan gadis-gadis bumiputera saat itu, ia adalah teman Snouck Hurgronye, (orientalis Yahudi) dan istrinya; Dr. Adriani (sahabat pena Kartini, seorang ahli bahasa dan pendeta yang misinya menyebarkan agama Kristen di suku Toraja), Anni Glasser (Pengajar privat Kartini yang dikirim Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini, Stella (sahabat pena Kartini, wanita Yahudi, anggota militan Pergerakan Feminisme di Belanda), Ir. H. Van Kol (seorang insinyur, ahli dalam masalah-masalah kolonial, ia mendukung Kartini sekolah ke Belanda untuk menjadikannya saksi hidup akan kebobrokan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan hingga dapat memenangkan partainya (Sosialis) di Parlemen), dan Ny. Van Kol (yang berusaha mengkristenkan Kartini).

Tetapi, Kartini diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki dirinya, Ia bertemu dengan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Lewat Kyai ini, Kartini terbuka pikirannya dan meminta diajarkan agama dengan mempelajari Al Qur’an dengan cara yang dapat ia mengerti. Kemudian Kyai Sholeh Darat memberikan Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada hari pernikahannya (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah saat itu, Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Namun tidak berlangsung lama, karena Kyai Sholeh Darat meninggal dunia sebelum ia menyelesaikan terjemahan Alqur’an tersebut.

Pengaruh agama Islam ternyata sangat kuat membentuk dirinya dan merubah cara pandangnya kepada Barat, ini dapat terlihat pada surat-suratnya: “Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 5 maret 1902).

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa yang kebarat-baratan” (Ditujukan kepada Ny Abendanon, 10 Juni 1902).

“Moga-moga Kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai” (ditujukan kepada Ny Van Kol, tgl 21 juli 1902).

“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902).

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (ditujukan kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi????. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya“ (ditujukan kepada Abendanon, 31 Januari 1903).

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903).

“Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).

Pada saat Kartini mempelajari Al Qur’an melalui terjemahan berbahasa jawa, Kartini menemukan dalam surat Al Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:
“Allah Pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka ialah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.

Maknanya: bahwa Allah lah yang telah membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan kepada cahaya (Min adz-Dzulumâti ila an-Nûr). Kartini sangat terkesan dengan ayat ini. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, yang olehnya ditulis dalam bahasa Belanda dengan Door Duisternis tot Licht. Kemudian makna ini bergeser tatkala Armijn Pane menerjemahkan kata Door Duisternis tot Licht dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, karena diambil Kartini dari pemahamannya akan ayat Al qur’an, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilik arti ruhiyyah.

Selanjutnya perjuangan Kartini, banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia, dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan Feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Sehingga, muncul persepsi bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan dengan menggunakan nama Kartini. Namun sayang, perjuangan wanita Indonesia kebanyakan telah menyimpang dari perjuangan Kartini, mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita. Tanpa mereka sadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme–Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita-wanita itu sendiri, bahkan membawa kehancuran bagi masyarakat dan negaranya. Hal ini disebabkan, mereka meninggalkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumah tangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Mereka telah terbelenggu kepada perjuangan yang bersifat individual dan semata-mata mendapatkan kemaslahatan.

Disinilah menjadi suatu keharusan, untuk meluruskan peran wanita (khususnya muslimah) dalam usaha untuk mengembalikan kehidupan yang hakiki yang didasarkan kepada Islam sebagai dîn yang Syamil dan Kamil. Perjuangan muslimah untuk kebangkitan ummat yang hakiki tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dengan laki-laki, karena untuk mewujudkan masyarakat Islam, dimana di dalam masyarakat itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengharuskannya berjuang bersama-sama, tidak terpisah-pisah dan bersaing satu sama lain.

Selain itu, perjuangan muslimah tidak hanya untuk skala Indonesia saja, karena umat Islam itu satu tubuh dan syari’atnya satu, nabinya satu dan Tuhannya satu. Sehingga, seharusnya target penegakan masyarakat yang Hakiki, adalah untuk seluruh ummat di dunia. Indonesia adalah salah satu tempat untuk mewujudkan terjadinya kebangkitan ummat yang hakiki, dengan didasarkan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi suatu hal yang penting, muslimah bersama dengan laki-laki muslim bergerak dalam satu gerakan, yang memilik kejelasan pemahaman tentang pemikiran-pemikiran Islam (fikrah) dan metode (thariqah) untuk mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki yaitu kebangkitan Islam untuk diterapkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Selain itu, aktivitas muslimah untuk terlibat mewujudkan kebangkitan yang hakiki jangan sampai meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan fungsi utamanya sebagai ummun wa robbatul bait. Disinilah dituntut bagi muslimah, untuk mampu mengatur diri dan melaksanakan konsep aulawiyyat (prioritas) dalam aktivitasnya, sehingga tidak membawa kemudhorotan bagi diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. Semoga tulisan ini dapat membantu para muslimah untuk dapat ikut berjuang mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki, tentu bersama dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Amîn.

Felix Siauw

Selanjutnya...
Bookmark and Share

20 April 2009

Standar Kelulusan 5,5 Bikin Orangtua Khawatir

Sejumlah orang tua di Kota Manado, mengaku khawatir dengan Standar Kelulusan Siswa pada Ujian Nasional (UN) tahun 2009 mencapai 5,5. "Pelaksanaan UN tahun 2008 lalu saja dengan standar 5,0, ternyata banyak siswa tidak lulus, lalu ditingkatkan lagi menjadi 5,5 pada tahun 2009," kata Ny Josephine, salah satu orang tua siswa yang tinggal di Kelurahan Malalayang, Manado, Minggu.
Sejumlah orang tua di Kota Manado, mengaku khawatir dengan Standar Kelulusan Siswa pada Ujian Nasional (UN) tahun 2009 mencapai 5,5. "Pelaksanaan UN tahun 2008 lalu saja dengan standar 5,0, ternyata banyak siswa tidak lulus, lalu ditingkatkan lagi menjadi 5,5 pada tahun 2009," kata Ny Josephine, salah satu orang tua siswa yang tinggal di Kelurahan Malalayang, Manado, Minggu.
Mekanisme pemberian nilai standar kelulusan bagi siswa SMA dan SMK secara nasional, dinilai bukan menjamin standar kualitas siswa selama menempuh pendidikan. Menurut ibu yang berprofesi wiraswasta itu, penilaian kualitas juga harus dihitung selama masa pendidikan berjalan serta aktifnya siswa di berbagai kegiatan ekstra pendidikan lainnya.
"Hanya saja standar siswa itu sudah tidak bisa diubah, sehingga anak saya terus diberikan motivasi untuk terus berjuang pada ujian akhir itu," katanya.
Lexi L, salah satu orang tua siswa lainnya mengaku, standar kelulusan hingga 5,5 cukup tinggi, sehingga anaknya terus ditekan untuk terus berusaha meraihnya. "Masalah dialami anak kami bersama teman lainnya, minimnya kegiatan "try out" atau latihan menjelang UN, sehingga bisa berpotensi buruk selama pelaksanaan UN," katanya.

Kompas.com

Selanjutnya...
Bookmark and Share

07 April 2009

Pendidikan Nasional Tak Dipercaya

Pemerintah tidak percaya bahwa sistem pendidikan nasional bisa bersaing secara global dengan negara lain. Hal itu dibuktikan sendiri pemerintah dengan kebijakannya yang justru mendorong bermunculannya sekolah-sekolah negeri bertaraf internasional yang didukung biaya besar.
Pemerintah seharusnya justru memperkuat sistem pendidikan nasional yang mampu membuat siswa senang belajar, percaya diri untuk bersaing, cerdas, dan humanis. Bukan sebaliknya, menciptakan sistem pendidikan yang berkelas-kelas yang akan menciptakan bom sosial di kemudian hari.
Demikian persoalan yang mengemuka dalam diskusi publik bertajuk ”Membedah Kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)” yang dilaksanakan Education Forum di Jakarta, Senin (6/4).

Tampil sebagai pembicara adalah Direktur SMA Kolese Kanisius Jakarta Rm E Baskoro Poedjinoegroho, pengamat pendidikan HAR Tilaar, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina Utomo Dananjaya, dan M Fajri Siregar, alumnus Universitas Indonesia.
”Bukan kita menutup diri terhadap apa yang berbau asing atau internasional, tetapi SBI ciptaan pemerintah saat ini lebih sebagai pelarian karena tidak bisa membuat sistem pendidikan nasional yang menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan zaman. SBI di sekolah negeri itu jadi tertutup hanya untuk orang pintar dan berduit,” kata Baskoro.
Menurut Baskoro, yang ada di Indonesia saat ini sebenarnya masih kelas bertaraf internasional. Itu pun dengan pengajar yang fokus untuk menerjemahkan bahan ajar ke dalam bahasa Inggris. SBI umumnya menggunakan kurikulum internasional Cambridge.
HAR Tilaar mengatakan, yang mendasar justru perlu diciptakan sistem pendidikan nasional yang baik, yang bersumber dari kekuatan yang dimiliki bangsa ini.
Sikap inferior
Sementara itu, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina menilai fokus pemerintah untuk mengembangkan SBI menunjukkan sikap inferior bangsa ini. Padahal, pendidikan berfungsi untuk mengembangkan budaya dan martabat bangsa dengan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Fajri Siregar, alumnus Sosiologi UI, mengatakan, yang juga berkembang adalah sekolah nasional plus, yang selain memakai kurikulum nasional juga mengadopsi kurikulum internasional. Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing.

Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekuler-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan.
Ajip Rosidi, Ketua Umum Yayasan Rancage, dalam penutupan Konferensi Internasional Budaya Sunda I, di Bandung, Minggu (26/8/2001) mengatakan, "Sistem pendidikan nasional di Indonesia masih mewarisi sistem kolonial. Perlu dilakukan perombakan total pada sistem pendidikan nasional agar bisa membentuk watak anak yang mandiri dan kreatif …"
Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.

Diolah dari Kompas Cetak dan femaleofhati

Selanjutnya...
Bookmark and Share

25 Maret 2009

Kejayaan Khilafah: Merawat Kecantikan Tubuh dan Rambut Ala Ibnu Sina

Allah SWT itu indah, dan mencintai keindahan, begitu bunyi salah satu hadis Rasululah SAW. Dalam hadis lainnya juga diungkapkan bahwa, Sesungguhnya Allah SWT itu bersih dan mencintai kebersihan. Ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW itu telah melecut para ilmuwan Muslim untuk berkontribusi dalam bidang perawatan kecantikan, mulai dari rambut hingga ujung kaki.

Sejatinya, perawatan kecantikan telah berkembang sejak era kejayaan Islam. Adalah Ibnu Sina (980 -1037 M) dokter Muslim legendaris dalam kitabnya Qanin fi Thib atau Canon of Medicine secara khusus menuliskan rahasia dan resep perawatan kecantikan mulai rambut hingga ujung kaki. Tips perawatan kecantikan itu ditulis dalam bab khusus yang disebut ziyet penampilan fisik.
Prof Nil Sari dari Fakultas Kedokteran Istanbul University dalam tulisannnya bertajuk ‘Beauty, Hair and Body Care in the Canon of Ibn Sina mengungkapkan, meski istilah ziynet kerap digunakan untuk menyebut hiasan-hiasan, namun dalam kitab itu Ibnu Sina menjelaskan tentang tips dan rahasia berkaitan dengan penampilan, seperti perawatan rambut dan tubuh.

Menurut Prof Nil, sejak abad ke-10 M, Ibnu Sina sudah membahas mengenai penyakit kulit, perawatan, dan penyembuhannya. ”Ia juga membahas mengenai masalah berat badan, misalnya kegemukan dan kekurusan serta dampaknya terhadap penampilan,” tutur Prof Nil. Ibnu Sina juga membahas tentang simptom atau gejala.

Misalnya, ia mengupas tentang berbagai masalah kecantikan yang kerap dihadapi setiap orang, seperti rambut rontok, kulit yang berubah pucat, serta bagaimana merampingkan tubuh. Dalam kitabnya yang fenomenal itu, ia juga mengungkapkan tentang formula perawatan rambut dan kulit.

Selain itu, Ibnu Sina juga memaparkan tentang penyakit-penyakit kulit, metabolisme serta makanan yang perlu dikonsumsi dan tidak untuk menjaga kecantikan tubuh. Avicenna begitu ia akrab disapa di Barat mengupas masalah kecantikan bukan bertujuan untuk mempercantik diri, namun lebih menekankan pada sudut pandang kesehatan dengan cara merawat tubuh.

Masalah Rambut
Dalam kitabnya, Ibnu Sina mengungkap rahasia perawatan rambut. Ia mengkaji semua hal tentang rambut (sha’r), jenggot dan lainnya. Ia sudah mampu mengungkapkan langkah-langkah yang harus diambil untuk mencegah rambut dan jenggot rontok. Selain itu, dia juga memaparkan tentang cara mendapatkan rambut yang lebat dan panjang. Ibnu Sina juga memaparkan bagaimana cara menata rambut, seperti mendapatkan rambut halus yang lurus atau keriting.

Tak hanya itu, Ibn Sina juga menjelaskan metode untuk mengubah warna rambut, misalnya, warna rambut dibuat lebih gelapkan warnanya, dengan warna hitam pekat, atau warna rambut diubah menjadi merah, cokelat, dan lainnya. “Semua hal tentang pertumbuhan rambut, penyakit, pengobatan dijelaskan sesuai dengan teori humoral. Tetapi sulit untuk memahami arti medis dari beberapa istilah,” ungkap Prof Nil.

Khusus tentang rambut, Ibnu Sina mengkaji masalah kebotakan dan beragam penyebab rontoknya rambut. Menurut dia, terdapat tiga faktor yang membuat rambut gagal tumbuh. Ppertama, “zat” rambut tidak menembus ke dalam tempat tumbuhnya rambut. Kedua, ‘zat’ menembus ke tempat rambut tumbuh, namun tak bertahan di tempat itu. Ketiga, “zat” rambut merusak, akibatnya tak cocok untuk pertumbuhan rambut.

Pengobatan rambut
Selain mengindentifikasi masalah penyebab kerusakan rambut, Ibnu Sina pun menawarkan pengobatannya. Secara khusus, ia menulis tentang ”obat melindungi rambut.” Prinsip-prinsip pengobatan penyakit terkait rambut didasarkan pada teori humoral. Obat yang melindungi rambut, papar ibnu Sina, harus memiliki “daya tarik” untuk menormalkan dan menyesuaikan suhu (hararet-i latîfe-i jazzabe) dan “mempertahankan kekuatan zat” (quvva-i kâbiza).

Perawatan kulit
Selain membahas berbagai masalah tentang rambut, Ibnu Sina juga mengupas perwatan kulit secara detail. Masalah perawatan, penyakit dan pengobatan kulit diuraikan sang dokter legendaris dalam artikel kedua bab ziynet. Pada abad ke-10 M, Avicenna sudah mampu menjelaskan secara ilmiah mengenai perubahan warna pada kulit.

Menurut Ibnu Sina, ada sejumlah faktor yang menyebabkan perubahan warna kulit seperti sinar matahari, udara dingin, angin, usia lanjut, jarang mandi, makanan yang terlalu asin serta perubahan dalam darah. Sang dokter juga merinci tentang penyebab kulit mencaji pucat. Kata dia, penyebab kulit pucat antara lain, penyakit, kegelisahan, kelaparan, terlalu banyak jimak (hubungan seks), sakit parah, cuaca terlalu panas, kurang minum serta faktor lainnya.

”Hal yang luar biasa Ibnu Sina sudah mempu mengamati hubungan antara geophagia (kebiasaan memakan tanah) dengan anemia,” ungkap Prof Nil. Ibnu Sina dalam bab ziynet juga sudah memberi solusi penyembuhan dan perawatan masalah yang biasa dialami pada kulit itu.

Penyakit kulit
Masalah penting lainnya yang dijelaskan Ibnu Sina mengenai jenis-jienis penyakit kulit dan pengobatannya. Dalam artikel ketiga, sang dokter sudah menjelaskan penyebab terjadinya kulit melepuh, jerawat, bisul, borok serta penyakit kulit lainnya.Menurut Prof Nil, pembahasan rahasia merwat kecantikan, rambut dan kulit yang dijelaskan Ibnu Sina diklasifikasikan berdasarkan gejala. Contohnya, rambut rontok, kulit pucat tau tubuh menjadi kurus. Dalam bab ziynet, penyakit-penyakit kulit juga dibahas Avicenna dalam artikelnya tentang kulit. Pembahasan kulit secara khusus, dikaji dan dikupas dalam artikel ketiga.

Ibnu Sina juga membahas masalah kecantikan dengan mengklasifikasikan organ. Ia mengupas masalah kecantikan mulai dari kepala yakni tentang perawatan rambut dan diakhiri dengan mempelajari kaki. Sang dokter berupaya membahas masalah kesehatan tubuh secara runut dari atas sampai ke bawah.

”Topik mengenai ziynet sebagai berhubungan dengan kosmetika,” tutur Prof Nil. Ibnu Sina
ternyata sudah mampu menawarkan formula perawatan untuk rambut dan kulit. Selain itu, ia juga sudah menjelaskan mengenai penyakit-penyakit kulit yang banyak dialami, metabolisme, terapi fisik dan haematologi. ”Ibnu Sina mengupas masalah ini bukan untuk mempercantik orang, tapi bagaimana menyembuhkan penyakit yang dapat merusak penampilan.” desy susilawati/hri

Madu sebagai Obat Kecantikan

Ibnu Sina melakukan penelitian terhadap bahan-bahan alami yang ada pada masanya. Salah satu bahan alami yang ditawarkannya untuk merawat kecantikan tubuh adalah madu dan minyak zaitun. Kedua bahan tersebut ternyata mampu menjadi obat mujarab yang digunakan sebagai kosmetika yang memiliki beragam khasiat.

Menurut Avicenna, madu dan minyak zaitun bisa mengencangkan kulit muka dan seluruh kulit badan. Kedua bahan alami yang mendapat perhatian khusus dalam Alquran itu mampu menghilangkan flek-flek hitam dan jamur kulit. Selain itu, madu dan minyak zaitun juga bisa menghaluskan kulit dan mengurangi reutan pada wajah.

Yang tak kalah menariknya, Ibnu Sina pun telah menemukan fakta bahwa minyak zaitun dan madu mampu menghilangkan bau badan yang tak sedap, serta bisa memberikan vitamin pada kulit dan melembabkannya. Selain untuk kosmetik, madu juga bisa digunakan untuk bearagam kegunaan lainnya.

Mulai dari makanan, obat-obatan sampai bahan untuk alat-alat kecantikan. Sejatinya, manfaat madu telah dirasakan peradaban manusia sejak dahulu kala. Orang Mesir Kuno telah mengonsumsinya. Penduduk Mesir Kuno sudah terbiasa memanfaatkan madu sebagai makanan bergizi tinggi serta obat berbagai macam penyakit yang mujarab.

Meski begitu, peradaban kuno belum mampu menjelaskannya secara ilmiah. Adalah Ibnu Sina seorang dokter legendaris sepanjang masa yang telah berhasil membuktikan kebenaran khasiat madu tersebut, dalam usia tua. Konon, Ibnu Sina masih tetap kelihatan sehat dan segar bugar layaknya seorang pemuda, karena terbiasa mengonsumsi madu. she

Sang Dokter Legendaris

”Bapak Kedokteran Modern.” Begitulah Ibnu Sina (980-1037) atau Avicenna kerap dijuluki. Dokter kelahiran Persia itu dikenal sebagai seorang penulis produktif. Karyanya yang paling monumental adalah Qanun fi Thib rujukan dalam bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abu Al al-Husayn bin Abdullah bin Sina. Ia lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan dan meninggal pada Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Dia adalah pengarang sekitar 450 buku, terutama kedokteran dan filsafat.

George Sarton mentahbiskannya sebagai “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikirannya terbilang independen. Ia dikenal berotak encer, karena memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa. Pada usianya yang ke-14 tahun, Inu Sina sudah setaraf dengan para gurunya. Ibnu Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya membuat masyarakat di wilayahnya berdecak kagum. Ia telah menghafal Alquran pada usia 5 tahun. (Republika Online)

Selanjutnya...
Bookmark and Share

19 Maret 2009

Dewan HAM PBB dukung sikap Rasial Israel

Dewan Hak Asasi Manusia PBB memang hanyalah "macan ompong" dalam upayanya mencegah tindakan rasialisme dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dewan tersebut menghapus dua point penting dalam draft deklarasi yang rencananya akan dideklarasikan pada Konferensi Anti-Rasisme yang akan berlangsung di Jenewa bulan April mendatang.
Dua point penting yang dihapus dari deklarasi tersebut adalah poin yang isinya mengecam kebijakan rasial Israel dan point tentang "pelecehan dan fitnah terhadap agama". Sehingga draft deklarasi hanya memuat hal-hal yang berkaitan dengan stereotipe negatif terhadap agama-agama.

"Saya yakin teks deklarasi yang lebih pendek ini bisa menjadi dasar yang solid dan penting dalam negosiasi yang akan dilakukan oleh seluruh negara anggota Dewan HAM PBB, untuk mencapai hasil konferensi yang positif," kata Doune Porter, juru bicara kantor pusat Dewan HAM PBB yang berlokasi di Jenewa.
Tidak jelas apa alasan Dewan HAM PBB menghapus point yang mengkritik kebijakan rasial Israel dan point tentang pelecehan dan fitnah terhadap agama. Tapi AS dan 27 negara anggota Uni Eropa menyatakan akan memboikot Konferensi Durban II yang akan digelar tanggal 20-25 April mendatang, jika konferensi itu mengkritik kekejaman Israel terhadap Palestina dan jika negara-negara Islam menuntut agar kebebasan berbicara yang isinya mengkritik Islam dibatasi.
Selain AS dan Uni Eropa, Kanada dan tentu saja Israel sudah menyatakan memboikot konferensi tersebut.
Konferensi Anti-Rasialisme yang akan berlangsung di Jenewa bulan depan, adalah lanjutan dari konferensi Durban, Afrika Selatan pada tahun 2001. Konferensi ini akan mengkaji kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam upaya melawan tindakan rasialisme di seluruh dunia.
Tapi, Dewan HAM PBB yang mengkordinir konferensi ini, ternyata masih belum mampu bersikap tegas atas kebijakan rasialisme Israel terhadap rakyat Palestina dan kecenderungan negara-negara Barat yang kerap melecehkan Islam dan Muslim.
Sejak awal PBB memang menjadi pendukung penjajahan Israel atas Palestina dan menjadi perpanjangan tangan negara Barat dalam menjajah negeri-negeri kaum Muslimin. Setelah Pada tanggal 2 November 1917, pemerintahan Inggris menyetujui pendirian negara Israel di tanah Palestina lewat deklarasi Balfour dimana deklarasi ini sekaligus mengawali pemerintahan militer di tanah Palestina dengan Jendral Allenby yang ditugaskan UK untuk melindungi eksodus penjajah yahudi ke tanah Palestina, Pada Desember 1922, Liga Bangsa Bangsa (League of Nations) yaitu cikal bakal PBB (United Nations), memberikan landasan yudisial yang lebih kuat bagi UK dengan memberikan mandat pengaturan wilayah Palestina, setelah itu, eksodus kaum Yahudi pun meningkat pesat, sedikitnya 1,3 juta kaum yahudi bermigrasi dari seluruh dunia ke tanah palestina, sejak saat itu, kaum muslimi di Palestina diusir dan dibunuh tanpa ada pembelaan dari siapapun.
Hal ini semakin membuktikan bahwa kemustahilan umat Islam bahkan dunia berharap kepada PBB. Satu-satunya harapan hanyalah tegaknya Khilafah yang akan memelihara kemuliaan Islam dan umat manusia. (erm/felix/pro-syariah)

Selanjutnya...
Bookmark and Share

18 Maret 2009

Paus Benedict XVI: Perangi AIDS dengan Kondom Tidak Tepat

YAOUNDE, KAMERUN - Paus Benedict XVI saat akan mengunjungi Kamerun Selasa kemarin mengatakan, kondom bukan solusi tepat untuk mencegah seseorang dari penyakit AIDS.

Menurutnya ada cara lain yang lebih baik untuk memerangi penyakit mematikan itu.

"AIDS adalah tragedi yang tidak dapat ditanggulangi dengan uang, juga tidak dapat ditangani dengan kondom, bahkan lebih menjadi-jadi," ungkapPaus Bbenedict XVI seperti dikutip AFP, Rabu (18/3/2009).

Solusinya, lanjut Paus, adalah "pendekatan spiritual dan kesadaran manusia itu sendiri" serta "pertemanan kepada para penderita".

Paus Benedict XVI bulanlah satu-satunya orang yang mengakui bahwa kondom bukanlah solusi untuk mencegah penyakit HIV/AIDS. Dr. Dadang Hawari pernah menuliskan hasil rangkuman beberapa pernyataan dari sejumlah pakar tentang kondom sebagai pencegah penyebaran HIV/AIDS. Berikut sebagian pernyataan tersebut:

1. Direktur Jenderal WHO Hiroshi Nakajima (1993), “Efektivitas kondom diragukan.”

2. Penelitian Carey (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA: Virus HIV dapat menembus kondom.

3. Laporan dari Konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995): Penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pada kondom (yang terbuat dari bahan latex) terdapat pori-pori dengan diameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang; dalam keadaan meregang lebar pori-pori tersebut mencapai 10 kali. Virus HIV sendiri berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, virus HIV jelas dengan leluasa dapat menembus pori-pori kondom.

4. V Cline (1995), profesor psikologi dan Universitas Utah, Amerika Serikat, “Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan.”

5. Hasil penelitian Prof. Dr. Biran Affandi (2000): Tingkat kegagalan kondom dalam KB mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dari Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk KB dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Dapat diumpamakan, besarnya sperma seperti ukuran jeruk garut, sedangkan kecilnya virus HIV/AIDS seperti ukuran titik. Artinya, kegagalan kondom untuk program KB saja mencapai 20 persen, apalagi untuk program HIV/AIDS; tentu akan lebih besar lagi tingkat kegagalannya.

Prof. Dadang Hawari meyakini, dari data-data tersebut di atas jelaslah bahwa kelompok yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan kebohongan. (Republika, 13/12/02).

Kondomisasi Mengkampanyekan Seks Bebas

Jika sudah jelas penggunaan kondom tetap mengundang bahaya, lalu mengapa orang masih terus mengkampanyekan kondom? Tidak lain karena di balik kampanye kondom ada semacam pesan tersembunyi: “Bolehlah Anda melakukan hubungan seks bebas dengan siapa saja, asal memakai kondom.” Kira-kira begitulah pesan dari kampanye penggunaan kondom.

Akibatnya, kampanye kondom bakal semakin meningkatkan pergaulan seks bebas. Hal ini pernah diungkapkan oleh Mark Schuster dari Rand, sebuah lembaga penelitian nirlaba, dan seorang pediatri di University of California. Berdasarkan penelitian mereka, setelah kampanye kondomisasi, aktivitas seks bebas di kalangan pelajar pria meningkat dari 37% menjadi 50% dan di kalangan pelajar wanita meningkat dari 27% menjadi 32% (USA Today, 14/4/1998).

Itulah sebabnya, pakar AIDS, R Smith (1995), setelah bertahun-tahun meneliti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan safe sex dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya ia merekomendasikan agar risiko penularan/penyebaran HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah (Republika, 12/11/1995).

Namun demikian, orang-orang sekular, khususnya para pemuja HAM dan demokrasi, tentu lebih merekomendasikan untuk menebar kondom gratis ketimbang memberantas pergaulan bebas dan pelacuran. Mungkin pikir mereka, itu lebih manusiawi karena tidak melanggar HAM.

Berbagai konferensi tentang HIV/AIDS diselenggarakan di seluruh dunia. Namun, tak satu pun konferensi itu—yang bahkan di antaranya diprakarasai PBB—mengeluarkan rekomendasi untuk mencegah perilaku dan kehidupan seks bebas. Bulan Agustus lalu (19-23 Agustus 2007), misalnya, lebih dari 2500 orang dari 60 negara di kawasan Asia dan Pasifik berkumpul dalam Konferensi Internasional AIDS Asia dan Pasifik (International Conference on AIDS in Asia and the Pacific, atau ICAAP) ke-8 di Colombo, Sri Lanka. Pertemuan selama empat hari ini mendatangkan berbagai pembuat kebijakan, pejabat pemerintah, pakar medis, akademisi, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), pekerja komunitas dan media. Mereka membicarakan isu-isu seputar stigma dan diskriminasi, akses layanan bagi ODHA, pentingnya meyakinkan kembali para pimpinan politik untuk menepati janji mereka, serta memperluas layanan kesehatan bagi mereka yang terinfeksi HIV. Mereka juga saling bertukar pengalaman dan tantangan yang dihadapi, termasuk masalah hak asasi manusia, keamanan, gender dan seksualitas, serta keterlibatan ODHA yang lebih besar dalam program HIV/AIDS. Namun, tidak ada satu pun pembicaraan mereka itu mengarah pada akar penyebab penyebaran HIV/AIDS, yakni seks bebas (baca: zina). Padahal seks bebaslah penyebab utama merebaknya HIV/AIDS, di samping penyalahgunaan narkoba.


Akar Masalah dan Solusinya

Mengapa perilaku dan kehidupan seks bebas sebagai penyebab utama penyebarluasan virus HIV/AIDS tidak mereka persoalkan? Alasan utamanya tentu karena perilaku seks bebas alias zina adalah salah satu perilaku yang dijamin dalam sistem demokrasi, sebagaimana yang diberlakukan di Indonesia saat ini. Di Indonesia, misalnya, salah satu buktinya adalah tidak adanya UU yang bisa menjerat pelaku perzinaan. Yang ada adalah pasal dalam KUHP yang terkait dengan delik pemerkosaan. Artinya, selama hubungan seks di luar nikah alias zina dilakukan suka sama suka maka hal itu tidak masalah. Wajar saja jika di Tanah Air lokalisasi pelacuran di berbagai tempat kerap dilegalkan, karena di sana transaksi seksual antara pelacur dan lelaki hidung belang memang dilakukan atas dasar suka sama suka.

Karena itu, satu-satunya solusi untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS adalah dengan membuang demokrasi yang memang memberikan jaminan atas kebebasan berperilaku, termasuk seks bebas, sekaligus memberlakukan hukum Islam secara tegas, antara lain hukuman cambuk atau rajam atas para pelaku seks bebas (perzinaan). Allah SWT berfirman:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Pezina wanita dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah jika kalian memang mengimani Allah, dan Hari Akhir. (QS an-Nur [24]: 2).

Hukuman yang berat juga harus diberlakukan atas para pengguna narkoba. Sebab, di samping barang haram, narkoba terbukti menjadi alat efektif (mencapai 62%) dalam penyebarluasan HIV/AIDS.
Lebih dari itu, sudah saatnya umat manusia segera menerapkan seluruh aturan-aturan Allah (syariah Islam) secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan itulah keberkahan dan kebaikan hidup—tanpa AIDS dan berbagai bencana kemanusiaan lainnya—akan dapat direngkuh dan ridha Allah pun dapat diraih. (okz/hti/pro-syariah)


Selanjutnya...
Bookmark and Share

03 Maret 2009

Buah Liberalisme : 1.625 Siswa Kelas 4-6 SD Jabotabek Sudah Pernah Nonton Materi Porno

Ketua Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, dalam seminar bertema Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia, Senin (2/3), di auditorium Departemen Kesehatan, Jakarta menyampaikan bahwa 1.625 siswa kelas 4-6 SD di Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, pernah menyaksikan materi seks.
"Banyak orang tua tidak tahu harus berbuat apa ketika anaknya mogok sekolah, mulai kelas lima sekolah dasar sampai sekolah menengah atas karena main games, tak henti-hentinya," kata Elly Risman menegaskan. Hampir tiap hari ada saja berita tentang anak dan remaja berbuat mesum dan foto bugil yang ditayangkan di televisi maupun dinikmati rekan sebaya mereka.

Dalam Pertemuan Konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, tahun 2008 terungkap, 66 persen dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran.
Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27 persen), terbawa teman (10 persen), takut dibilang kuper (4 persen). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36 persen), rumah teman (12 persen), warung internet (18 persen), rental (3 persen).
"Kalau kita jumlahkan yang melihat di kamar pribadi dan di rumah teman, berarti satu dari dua anak melihatnya di rumah sendiri," ujarnya.
Sementara hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 lalu menunjukkan, sebanyak 97 persen dari responden pernah menonton film porno, sebanyak 93,7 persen pernah ciuman, petting, dan oral seks, serta 62,7 persen remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama pernah berhubungan intim, dan 21,2 persen siswi sekolah menengah umum pernah menggugurkan kandungan.
Sudah sedemikian memprihatikannya kondisi masyarakat kita akibat sistem kapitalisme yang begitu mengagungkan kebebasan (liberalisme). Manusia sudah semakin jauh dari keterikatnya terhadap hukum - hukum Allah.
Kondisi ini akan semakin memburuk apabila kita tidak bersegera untuk mewujudkan tegaknya sistem Islam melalui berdirinya Khilafah yang akan memelihara kemuliaan manusia agar tetap dalam derajatnya yang tinggi (ahsanit taqwim). Dengan tegaknya sistem Islam ini manusia akan terpelihara dari perilaku yang akan menjerumuskan manusia ke derajat yang lebih rendah dari pada binatang.

Diolah dari : hidayatullah.com

Selanjutnya...
Bookmark and Share

19 Februari 2009

Kebijakan Khilafah di Bidang Kesehatan

Berbagai fakta historis kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul saw. menunjukkan taraf yang sungguh maju. Pelayanan kesehatan gratis diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitul Mal. Adanya pelayanan kesehatan secara gratis, berkualitas dan diberikan kepada semua individu rakyat tanpa diskriminasi jelas merupakan prestasi yang mengagumkan.
Hal itu sudah dijalankan sejak masa Rasul saw. Delapan orang dari Urainah datang ke Madinah menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Lalu mereka menderita sakit gangguan limpa. Nabi saw. Kemudian merintahkan mereka dirawat di tempat perawatan, yaitu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Mal yang digembalakan di sana. Mereka meminum susunya dan berada di tempat itu hingga sehat dan pulih.
Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum Muslim secara gratis. Khalifah Umar bin al-Khaththab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Mal. Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat yang merawat mereka digaji dari Baitul Mal. Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman. Di tempat itu ditunjuk dokter untuk melayani pengobatan.
Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”
Menurut Ketua Institut Internasional Ilmu Kedokteran Islam, Husain F Nagamia MD, di dunia, rumah sakit yang sebenarnya baru dibangun dan dikembangkan mulai awal kejayaan Islam dan dikenal dengan sebutan ‘Bimaristan’ atau ‘Maristan’. Rumah sakit, meski baru tahap awal dan belum bisa benar-benar disebut RS, pertama kali dibangun pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun pada era Khalifah Harun ar-Rasyid (786 M - 809 M). Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu dan pemilihan tempatnya merupakan ide brilian dari ar-Razi, dokter Muslim terkemuka. Djubair, seorang sejarahwan yang pernah mengunjungi Baghdad tahun 1184 M, melukiskan bahwa rumah sakit-rumah sakit itu memiliki bangunan megah dan dilengkapi dengan peralatan modern.
Menurut M. Husain Abdullah, pada masa Khilafah Abbasiyah, banyak rumah sakit dibangun di Baghdad, Kairo, dan Damaskus. Pada masa itu pula, untuk pertama kalinya, ada rumah sakit berjalan (semacam ambulans). (M. Husain Abdullah, Dirasat fi al-Fikri al-Islami, hlm. 88).
Menurut Dr. Hossam Arafa dalam tulisannya, Hospital in Islamic History, pada akhir abad ke-13, RS sudah tersebar di seantero Jazirah Arabia. Rumah sakit-rumah sakit itu untuk pertama kalinya di dunia mulai menyimpan data pasien dan rekam medisnya. Konsep itu hingga kini digunakan RS yang ada di seluruh dunia.
Semua itu didukung dengan tenaga medis yang profesional baik dokter, perawat dan apoteker. Di sekitar RS didirikan sekolah kedokteran. RS yang ada juga menjadi tempat menempa mahasiswa kedokteran, pertukaran ilmu kedokteran, serta pusat pengembangan dunia kesehatan dan kedokteran secara keseluruhan. Dokter yang bertugas dan berpraktik adalah dokter yang telah memenuhi kualifikasi tertentu. Khalifah al-Muqtadi dari Bani Abbasiyah memerintahkan kepala dokter Istana, Sinan Ibn Tsabit, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Dokter yang mendapat izin praktik di RS hanyalah mereka yang lolos seleksi yang ketat. Khalifah juga memerintahkan Abu Osman Said Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi serupa di wilayah Damaskus, Makkah dan Madinah.
Pada masa Khilafah Abbasiyah itu pula untuk pertama kalinya ada apotik. Yang terbesar adalah apotik Ibnu al-Baithar. Saat itu, para apoteker tidak diijinkan menjalankan profesinya di apotik kecuali setelah mendapat lisensi dari negara. Para apoteker itu mendatangkan obat-obatan dari India dan dari negeri-negeri lainnya, lalu mereka melakukan berbagai inovasi dan penemuan untuk menemukan obat-obatan baru (M. Husain Abdullah, Dirâsât fî al-Fikri al-Islâmî, hlm. 89).

Paradigma Islam Tentang Kesehatan
Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).
Dalam hadis ini kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukkan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi.
Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw. bersabda:
اْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya (HR al-Bukhari).
Tidak terpenuhi atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan mendatangkan dharar bagi masyarakat. Dharar (kemadaratan) wajib dihilangkan. Nabi bersabda:
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارً
Tidak boleh membahayakan orang lain dan diri sendiri (HR Malik).
Dengan demikian, kesehatan dan pengobatan merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak rakyat dan menjadi kewajiban negara.

Kebijakan Kesehatan
Dalam Islam, sistem kesehatan tersusun dari 3 (tiga) unsur sistem. Pertama: peraturan, baik peraturan berupa syariah Islam, kebijakan maupun peraturan teknis administratif. Kedua: sarana dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis dan sarana prasarana kesehatan lainnya. Ketiga: SDM (sumber daya manusia) sebagai pelaksana sistem kesehatan yang meliputi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. (S. Waqar Ahmed Husaini, Islamic Sciences, hlm. 148).
Kebijakan kesehatan dalam Khilafah akan memperhatikan terealisasinya beberapa prinsip. Pertama: pola baku sikap dan perilaku sehat. Kedua: Lingkungan sehat dan kondusif. Ketiga: pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Keempat: kontrol efektif terhadap patologi sosial. Pembangunan kesehatan tersebut meliputi keseimbangan aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Promotif ditujukan untuk mendorong sikap dan perilaku sehat. Preventif diprioritaskan pada pencegahan perilaku distortif dan munculnya gangguan kesehatan. Kuratif ditujukan untuk menanggulangi kondisi patologis akibat penyimpangan perilaku dan munculnya gangguan kesehatan. Rehabilitatif diarahkan agar predikat sebagai makhluk bermartabat tetap melekat.
Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik secara fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan kepribadian Islam itu sendiri. Dalam hal ini, keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Dr. Ahmed Shawky al-Fangary1 menyatakan bahwa syariah sangat concern pada kebersihan dan sanitasi seperti yang dibahas dalam hukum-hukum thaharah. Syariah juga memperhatikan pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan seperti perintah untuk memakan makanan halal dan thayyib (bergizi), larangan atas makanan berbahaya, perintah tidak berlebihan dalam makan, makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air dan 1/3 udara, termasuk kaitannya dengan syariah puasa baik wajib maupun sunah. Syariah juga menganjurkan olah raga dan sikap hidup aktif. Syariah juga sangat memperhatikan masalah kesehatan dan pola hidup sehat dalam masalah seksual.
Jadi, menumbuhkan pola baku sikap dan perilaku sehat tidak lain adalah dengan membina kepribadian Islam dan ketakwaan masyarakat. Tentu hal itu bukan hanya menjadi domain kesehatan tetapi menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat umumnya.
Kebijakan kesehatan Khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif. Tata kota dan perencanaan ruang akan dilaksanakan dengan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian, dsb. Hal itu sudah diisyaratkan dalam berbagai hadis, seperti:
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ, نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ, كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ, جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ, فَنَظِّفُوا بُيُوْتَكُمْ وَ أَفْنِيَتَكُمْ وَلاَ تَشَبَّهُوْا بِالْيَهُودِ
Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, Mahabersih dan mencintai kebersihan, Mahamulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu, bersihkanlah rumah dan halaman kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi (HR at-Tirmidzi dan Abu Ya’la).
اتَّقُوا الْمَلاَعِنَ الثَّلاَثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ
Jauhilah tiga hal yang dilaknat, yaitu buang air dan kotoran di sumber/saluran air, di pinggir atau tengah jalan dan di tempat berteduh (HR Abu Dawud).
Rasul saw. juga bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian buang air di air yang tergenang.” (HR Ashhab Sab’ah).
Jabir berkata, “Rasulullah melarang buang air di air yang mengalir.” (HR Thabarani di al-Awsath).
Di samping itu juga terdapat larangan membangun rumah yang menghalangi lubang masuk udara rumah tetangga, larangan membuang sesuatu yang berbahaya ke jalan sekaligus perintah menghilangkannya meski hanya berupa duri.
Beberapa hadis ini dan yang lain jelas mengisyaratkan disyariatkannya pengelolaan sampah dan limbah yang baik, tata kelola drainasi dan sanitasi lingkungan yang memenuhi standar kesehatan, dan pengelolaan tata kota yang higienis, nyaman sekaligus asri. Tentu saja itu hanya bisa direalisasikan melalui negara, bukan hanya melibatkan departemen kesehatan, tetapi juga departemen-departemen lainnya. Tata kota, sistem drainase dan sanitasi kota kaum Muslim dulu seperti Baghdad, Samara, Kordoba, dsb telah memenuhi kriteria itu dan menjadi model bagi tata kota seperti London, kota-kota di Perancis dan kota-kota lain di Eropa.
Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara (Khilafah) karena negara (Khilafah) berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan dasar berupa kesehatan dan pengobatan. Karenanya, Khilafah wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium medis, apotik, pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana prasarana kesehatan dan pengobatan lainnya. Negara juga wajib mengadakan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, penyuluh kesehatan dan lainnya.
Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya atau miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara ataupun harta milik umum.
Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan syariah termasuk pemisahan pria dan wanita serta hukum-hukum syariah lainnya. Juga harus memperhatikan faktor ihsan dalam pelayanan, yaitu wajib memenuhi 3 (tiga) prinsip baku yang berlaku umum untuk setiap pelayanan masyarakat dalam sistem Islam: Pertama, sederhana dalam peraturan (tidak berbelit-belit). Kedua, cepat dalam pelayanan. Ketiga, profesional dalam pelayanan, yakni dikerjakan oleh orang yang kompeten dan amanah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [KH. dr. Muhammad Utsman dan Yahya Abdurrahman]

Catatan Kaki:
1 Dr. Ahmed Shawky al-Fangary, The Impact of Islam and Its Teachings on Preservation of Individual and Public Health, http://www.crescentlife.com/wellness/impact_of_islam_on_health.htm

Sumber : almarjan

Selanjutnya...
Bookmark and Share

13 Februari 2009

Sutradara Chaerul Umam: Ada Bau Liberalisme di Film PBS

Film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) tak hanya menuai Chaerul Umamkritik di kalangan ulama dan umat Islam. Tak urung, kalangan sineas sendiri ikut-ikut gerah. Kritik datang langsung dari Chaerul Umam, mengatakan. Fim PBS tidak hanya melecehkan Islam, namun juga mengandung unsur propaganda politik.

"Film tersebut mengandung propaganda politik. Bagaimana tidak, dunia pesantren dicitrakan sangat buruk. Dan secara tidak langsung, seluruh pesantren memiliki kultur demikian," ungkap Chaerul kepada www.hidayatullah.com.
Chaerul menyayangkan, banyak siaran talkshow sebagaimana acara debat yang difasilitasi stasitun TV one baru-baru ini yang menghadirkan Hanung Bramantyo sang sutradara.

Menurutnya, hal itu hanya akan memberikan kesempatan kepadanya untuk ber-hujjah (berpendapat) dan bersilat lidah. Dengan demikian, dia dapat menyakinkan masyarakat. Padahal, dalam dunia seni hal tersebut tidak boleh dilakukan.

"Seharusnya yang membedah kontroversi itu adalah pihak lain, baik yang kontra maupun yang pro. Namun bukan dari pihak Hanung sebab, itu setali tiga uang. Celoteh nya pasti tidak cover both side," tuturnya.

Sebagai seorang sutradara senior, Chaerul mengetahui ketidakseimbangan (unbalance) dalam film tersebut. Bagimana kisah buruk kiyai dan pesantren yang di-blow up secara sepihak. Sedangkan pesantren dan kiyai yang bagus tidak disentuh.

Chaerul tidak hanya setuju dengan keputusan MUI yang menyuruh agar film tersebut ditarik dan direvisi, lebih keras lagi, Chaerul juga beranggapan bahwa film tersebut sudah tidak layak lagi direvisi.

"Untuk apa film PBS ditarik dan direvisi, film tersebut dibuang saja, tidak ada yang perlu direvisi,"tuturnya. Kecuali, jika Hanung mau menampilkan realitas pesantren secara jujur dan equal (setara), maka film tersebut bisa direvisi. "Itupun sangat banyak sebab, terlalu banyak kesalahan," imbuhnya.

Menurutnya, banyak adegan yang cukup menyulut kemarahan masyarakat dalam film tersebut. Dalam film itu banyak adegan yang jahili. Bahkan mengadopsi gaya-gaya Kristiani. Seperti, Annisa tokoh utama (PBS) yang mengajak Khudori bekas pacarnya untuk berzina di kandang kuda. Belum sempat kejadian itu terlaksana karena Khudori menolak sudah keburu ketangkap basah. Kemudian ditangkap dan disuruh dirajam. Hanya dengan bukti jilbab yang dicopot rajam pun dilakukan.

"Di adegan ini, secara fiqhiyah saja sudah salah. Namun, rajam tetap dilakukan," tutur Chaerul. Tidak hanya itu, ibu Annisa menghalang-halangi. Dia membolehkan, asal si pelempar bersih tidak memiliki dosa. Bukankah ini cerita Kristen seperti Makdalena yang yang mau dirajam. Tiba-tiba datang Yesus yang kemudian membolehkan rajam asal si perajam tidak berdosa?.

Dari bukti-bukti inilah, menurut Chaerul, sebenarnya film PBS termasuk dalam pelecehan agama. Dan bisa dibawa ke pengadilan dengan dalih penistaan agama.

Menurutnya, dalam hal ini, MUI harus menjadi mediator ke pengadilan. Sebab, jika pencegahan tersebut tidak cepat dilakukan, maka ditakutkan respon masyarakat akan bergerak.

Selain pembuat film, menurut Chaerul, yang paling bertanggung jawab adalah LSF. Sebab, lembaga ini telah meloloskan PBS.

Propaganda paham Liberal

Ketika ditanya bagaimana caranya agar insan perfileman tetap kreatif tanpa harus tergelincir masalah sensitif, seperti masalah SARA. Menurutnya, sebenarnya, hal itu tidak akan terjadi jika para sineas jujur dalam membuat film tanpa ada propaganda terselubung. Dan hal itu tidak akan mematikan insan film dalam berkreasi. Menurut Chaerul, tolok ukurnya cukup sederhana, yakni bisa mengangkat masalah apa saja asal solusinya baik.

"Yang jelas, adegan dan solusinya Islami. Jangan adegannya islami namun solusi jahili, kemudian dikatakan film religi, " jelasnya.

Seperti adegan perzinahan dan kemesraan diadegankan secara vulgar. Padahal hal tersebut sangat berbahaya.

"Masalah sentuhan saja sudah dipermasalahkan dalam masyarakat, apalagi pemerkosaan," katanya. Secara sepintas ia menilai, Hanung sengaja ingin meniru-niru Barat dalam membuat film.

Padahal masyarakar sekuler beda dengan Indonesia yang agamis. "Di Barat, agama adalah agama, sedangkan film adalah film," tegas Chaerul.

Chaerul beranggapan bahwa virus liberalisme, terutama dalam hal bisnis yang menghalalkan segala cara telah memasuki dunia perfilman nasional sekarang ini. Untuk mendapat banyak simpati dan untung tinggi, mereka melakukan beragam cara. Salah satunya liberalisasi film.

Chaerul Umam menyarankan, agar pembuat film harus membawa penasihat. Setidaknya, sebelum proses dan ketika proses ataupun hasilnya harus dikonsultasikan dengan penasihat ahli.

Sebagaimana diketahui, Chaerul Umam mulai dicatat sebagai sutradara yang baik lewat film "Al Kautsar", tahun 1977, produksi PT Sippang Jaya Film, dan "Titian Serambut Dibelah Tujuh". [hidayatullah.com, 2 Februari 2009]

Selanjutnya...
Bookmark and Share

11 Februari 2009

Kerusakan Sosial : HIV/AIDS di Bali Makin Mengkhawatirkan

Kondisi penyebaran HIV/AIDS di Bali dewasa ini dinilai semakin mengkhawatirkan karena 50 persen pengidapnya adalah kelompok usia 19-25 tahun.
"Hasil penelitian menunjukkan, sekitar 28,5 persen remaja di Bali telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dan sepuluh persen diantaranya akhirnya menikah dan memiliki anak," kata Luh Putu Ikha Widani dari Kita Sayang Remaja (Kisara) Bali di Denpasar, Rabu.
Dengan demikian, katanya, kasus kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) di kalangan remaja Bali hingga saat ini masih memprihatinkan dan belum ada jalan keluar untuk pemecahan masalah secara tuntas.

Hingga akhir tahun 2004, tercatat 3.000 orang penduduk Bali yang terinfeksi virus HIV. Diperkirakan pada tahun 2010, sekitar 50 persen dari jumlah itu, akan terjangkit penyakit AIDS.
"Diperkirakan dalam lima tahun ke depan, dari 3.000 yang terinfeksi HIV itu, setengahnya akan terkangkit AIDS. Dari jumlah itu, 50 persen saja masuk Rumah Sakit Sanglah, maka mereka dipastikan tidak akan tertampung,” kata Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Bali Nyoman Mangku Karmaya ketika berbicara dalam sebuah seminar di Kota Gianyar, Bali, (Tempo Interaktif, Sabtu, 22 Januari 2005)
Mangku Karmaya juga mensinyalir maraknya kafe-kafe di berbagai wilayah di Bali dapat berdampak pada makin banyaknya penularan human immunodeficiancy virus (HIV) ke berbagai daerah di pelosok Bali. Sebab kafe-kafe tersebut juga menjadi tempat prostitusi terselubung. Demikian dikatakan Mangku Karmaya, yang juga Koordinator Pokja Hubungan Masyarakat (Humas) dan Informasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali dalam refleksi akhir tahun bersama wartawan di Sanur, (Selasa 30/12/2008) (www.balebengong.net, 31 Desember 2008)
Lima tahun terakhir, kafe-kafe tersebut memang makin marak di berbagai tempat di Bali. Kafe tersebut biasanya berada agak jauh dari pemukiman warga atau bahkan di luar kawasan kota. Secara kasat mata, munculnya kafe itu terlihat di sepanjang jalan By Pass Ida Bagus Mantra antara Denpasar hingga Klungkung atau di kawasan pinggir Denpasar.
Menurut Mangku, kafe-kafe tersebut merupakan salah satu bentuk prostitusi terselubung di Bali sehingga rentan menyebarluaskan HIV, virus penyebab AIDS. Sebab selain menjadi tempat untuk bersantai, kafe tersebut juga kadang menjadi tempat transaksi seks.
Berdasarkan keterangan dari salah satu lembaga penanggulangan AIDS di Denpasar, Mangku menemukan fakta bahwa ada pula pelayan kafe yang positif HIV. Dalam satu hari dia bisa berhubungan seks dengan empat sampai lima orang pelanggan, semuanya tanpa kondom sebagai alat pengaman.
Demikianlah kehidupan masyarakat yang semakin liberal akibat diterapkannya Kapitalisme yang tegak di atas landasan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) telah menjadikan sebagian masyarakat bebas untuk bertingkah tanpa mengikuti panduan dari Yang Mahakuasa. Akibatnya, kerusakkan terus terjadi di mana-mana.
Sistem kapitalisme sekular tak pernah mampu memberikan solusi atas kerusakkan kehidupan sosial yang terjadi saat ini. Terkait meningkatnya penderita HIV/AIDS ini, para kapitalis sekular malah memberikan solusi palsu, seperti kesadaran penggunaan kondom yang tiada lain upaya pelegalan berzina. Sementara perzinahan sebagai akar dari kerusakkan tersebut, dibiarkan. Padahal perzinahan ini sesuatu yang dimurkai Allah Swt.
Bukankah Rasulullah Saw. pun telah mengingatkan,
“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri”. (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Sudah sepatutnya, masyarakat dan pihak terkait kembali kepada sistem yang berasal dari Dia Sang Pencipta Yang Mahatahu, yakni sistem Islam. Sebuah sistem yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian untuk semua, berbeda dengan sistem kapitalisme sekular yang hanya melahirkan kerusakkan. (rep/tmp/blg/Pro-Syariah)

Selanjutnya...
Bookmark and Share

10 Februari 2009

Fenomena Ponari dan Mahalnya Tarif Dokter

Sebulan ini, Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang banyak menjadi perbincangan masyakarat. Di desa yang jauh dari perkotaan itu, masyarakat menggunjingkan kemampuan Ponari, bocah kelas III SD yang berubah menjadi sosok yang dianggap mampu menjadi penolong bagi si sakit.
Dari hari ke hari, jumlah pasien bocah berumur sembilan tahun ini semakin tak terkendali. Berawal dari satuan, puluhan, ratusan, ribuan hingga puncaknya kemarin, pasien Ponari mencapai angka 50 ribu orang. Sungguh, di mata masyakarat, Ponari menjadi satu-satunya pilihan atas sakit yang diderita. Fungsi dokter, sudah mulai ditinggalkan.

Dari puluhan ribu warga yang berharap sembuh ini, setidaknya memiliki alasan kenapa mereka harus rela mengantre hingga beberapa hari, hanya sekedar meminta air yang dijampi-jampi dengan batu yang katanya ajaib itu. Selain alasan ingin sembuh, mereka juga memiliki alasan yang bisa memukul para dokter. Kenapa demikian, mereka menganggap jika tarif dokter yang melangit, tak lagi terjangkau.
Alasan itu tak hanya alasan yang diungkapkan segelintir orang saja. Setidaknya, ini dibuktikan dengan "baju" para pasien Ponari yang rata-rata adalah kalangan menengah bawah. Hanya berbekal uang Rp 1.000 untuk membeli tiket antrean, dan beberapa lembar ribuan lainnya untuk sumbangan, mereka sudah mendapatkan sugesti jika sakitnya akan hilang berkat tangan Ponari.
Setidaknya, alasan inilah yang diungkapkan Karim (36), salah satu pasien dari Kota Blitar yang kemarin bertandang ke rumah praktik Ponari. Bapak yang mengalami sakit pegal-pegal dan tak kunjung sembuh ini, mengaku enggan pergi ke dokter untuk sakit yang sudah tujuh bulan menghinggapinya itu. Lagi-lagi, alasannya adalah mahalnya biaya untuk berobat ke dokter.

"Kalau ke dokter mahal. Di sini (rumah Ponari), cukup hanya dengan membeli kupon saja. Soal tarif, tak ditentukan," kata Karim, sembari memegang erat segelas air mineral untuk dijampikan ke Ponari.

Hanya alasan tarif itu, ia harus rela berlama-lama dan berdesakan diantara puluhan ribu pasien Ponari lainnya. Meski dalam sehari, tak tentu ia bisa mendapatkan obat atas sakitnya itu. Sudah dua hari ini ia menginap di desa kelahiran Ponari. Tidurpun, ia tak mengabaikan. "Saya tidur di teras rumah penduduk. Sebelumnya, saya tidur di masjid. Dan baru hari ini saya dapat kupon," lanjutnya, kemudian menunjukkan kupon bernomor 8818 itu.
Dia lantas menyinggung kualitas dokter dalam menangani pasiennya. Tanpa meremehkan, dia juga mengaku telah berkali-kali berobat ke paramedis. Hasilnya, kesembuhan tak kunjung datang. "Saya berangkat dari keyakinan. Dan saya yakin bisa sembuh, seperti beberapa tetangga saya yang sudah mendapatkan hasil dari sini," tukas pria yang mengaku berangkat serombongan bersama 12 orang dengan menggunakan mobil pick up ini.
Alasan lain juga diungapkan Sutianah, pasien Ponari lainnya asal Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Ibu tiga anak yang menderita penyakit pusing menahun itu juga mengungkapkan alasan yang sama dengan Karim. Dokter, dianggap hanya milik mereka yang memiliki kocek lebih. Sementara untuknya, hanya cukup berobat alternatif, yang selalu memberlakukan tarif seadanya. "Dokter mahal. Berkali-kali saya berobat, selalu di tempat pengobatan alternatif," aku Sutianah dengan logat bahasa Jawa kental.
Dia lantas menyebut tarif dokter yang dianggapnya selangit itu. Menurutnya, hanya untuk sekedar memeriksakan diri, ia harus merogoh kocek minimal Rp 50 ribu sekali berobat. Belum lagi, dokter akan menyodorkan resep yang selalu bernilai tinggi. "Kalau di puskesmas, meski agak murah, tapi jarang bisa sembuh untuk penyakit yang parah," katanya sembari berkali-kali menyebut dirinya yakin akan sembih berkat obat yang diberikan Ponari.
Membludaknya pasien Ponari ini, ditanggapi oleh salah satu dokter di Jombang, dr Ivan Rovian. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Jombang ini menyebut, jika pengobatan yang dilakukan Ponari itu lebih pada sugesti, dan jauh dari kata ilmiah. "Memang, selain obat, penyembuh penyakit lainnya adalah sugesti. Jika pasien memiliki keyakinan yang kuat akan sembuh, maka dengan obat apapun akan bisa sembuh," kata Ivan.
Dia juga mengungkapkan, obat yang diberikan Ponari berupa air mineral yang tekah dicelupkan dengan batu, secara medis tak memiliki khasiat apapun, selain khasiat air mineral itu sendiri. Selebihnya kata dia, yang berperan adalah sugesti si pasien. "Kita memandang dari sisi medis. Kalau ada yang percaya dengan model pengobatan seperti itu, saya juga tak menyalahkan," tukasnya.
Soal mahalnya biaya berobat ke dokter versi pasien, dia mengaku jika tarif yang ditetapkan, sesuai dengan jasa yang diberikan. Ia menampik jika dokter hanya milik golongan ekonomi kelas menengah atas. "Itu relatif. Toh tak harus ke tempat praktiknya. Bisa juga di puskesmas," tandasnya.

Namun banyaknya masyarakat yang enggan pergi ke puskesmas karena buruknya layanan di sejumlah puskesmas, seperti yang terjadi di Surabaya, sebagaimana dituturkan Sekretaris Komisi D Bidang Kesra dan Pendidikan DPRD Surabaya, Muhammad Alyas.
"Hasil jaring asmara (jaring aspirasi masyarakat) di lima kecamatan, ternyata banyak warga yang masih mengeluhkan buruknya pelayanan yang diberikan puskesmas," katanya di Surabaya.
Menurut dia, keluhan yang dirasakan warga selama ini adalah mahalnya biaya karcis untuk sekali layanan. Selain itu, kurang ramahnya respon yang diberikan petugas paramedis di Puskesmas ketika memberikan layanan, membuat warga jera untuk berobat ke Puskesmas.(www.kapanlagi.com)

Sementara itu meski diingatkan polisi bahwa pengobatan tabib cilik asal Jombang, Muhammad Ponari (9) di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang telah ditutup, ribuan warga tetap berdesak-desakan mengantre untuk mendapat giliran. Akibatnya, salah seorang calon pasien tewas terinjak-injak.

Insiden itu terjadi pada pukul 13.15 WIB, Senin (9/2/2009). Berdasarkan pantauan di lokasi, polisi yang melakukan evakuasi korban cukup kesulitan karena korban berada di tengah-tengah antrean. Evakuasi korban pun memakan waktu sekira 15 menit.

Setelah berhasil membawa tubuh korban keluar dari kerumunan, polisi langsung membungkusnya dengan tikar dan membawanya ke RSUD Jombang untuk diautopsi.

Belum diketahui jelas identitas korban. Namun terlihat korban berjenis kelamin pria, dan menurut polisi korban berasal dari Blitar.

Kapolsek Megaluh, AKP Sutikno, membantah korban tewas karena berdesak-desakkan. Menurut dia, korban telah selesai berobat dan tidak dalam antrean.

Sementara itu meski telah terjadi insiden yang menewaskan seorang calon pasien, ribuan warga tetap antre. Mereka tidak mengindahkan peringatan polisi bahwa pengobatan telah ditutup untuk hari ini.

Insiden ini merupakan insiden kedua setelah sebelumnya pada pekan lalu dua orang tewas akibat terinjak-injak saat berdesakan mengantre untuk minta obat kepada Ponari.
(diolah dari : okezone.com dan kapanlagi.com)

Selanjutnya...
Bookmark and Share
Related Posts with Thumbnails