19 Januari 2010

Beras Mahal, Satu RW Makan Nasi Aking

Sungguh ironis, sekitar 120 Kepala Keluarga (KK) atau satu RW (Rukun Warga) harus rela makan nasi aking. Ratusan warga miskin itu tinggal di RW 04 Desa Pulosari Kecamatan Bareng, Jombang Jawa Timur.


Mereka beralasan, dengan mengkonsumsi nasi aking, biaya hidup yang dikeluarkan relatif murah. Maklum, harga nasi yang sudah dikeringkan itu hanya 2.500/ Kg. Kondisi itu sangat berbanding tajam dengan harga beras yang tembus Rp 6.500/Kg. Tak terjangkau.

Sugiati,46, salah satu warga mengatakan, sebenarnya ia sudah lama mengkonsumsi nasi aking. Hanya saja, frekwensi itu meningkat sejak satu bulan terakhir ini. Tepatnya, sejak harga beras merangkak naik. Sugiati dan keluarganya tidak lagi memperdulikan kadar gizi makanan yang ia konsumsi. Yang ada dalam benaknya hanya satu, yang penting perut bisa kenyang.

“Kalau harus membeli beras harganya terlalu mahal. Oleh karena itu, saya senang masak karak (nasi aking). Masalah gizi bagi saya nomor dua, yang penting perut saya kenyang,” kata Sugiati dengan polos, Senin(18/1)pagi.

Untuk menambah nikmat nasi “alternatif” tersebut, Sugiati punya resep tersendiri. Yakni, dalam memasak nasi aking, ia mencampurnya dengan singkong yang sudah dikeringkan. Jika tidak, maka nasi tersebut dicampur dengan jagung.

Istri dari Suwanto ini mengakui, selama ini pihaknya sudah mendapatkan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Hanya saja uang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan. Wajar saja, baik Sugianti dan Suwanto hanya berprofesi sebagai buruh tani. “Belum lagi untuk membayar kebutuhan sekolah,” tambahnya.

Kemiskinan yang diderita Sugianti bukan hanya terlihat dari makanan yang dikonsumsi. Namun juga terlihat dari rumah yang ia tinggali. Rumah tersebut hanya berdinding bambu dan berlantai tanah.

Sementara itu, Purnomo, Ketua RW 04, mengakui jika warga yang ada di RW-nya mengkonsumsi nasi aking. Berapa jumlahnya? Ia merinci, sebanyak 120 KK hampir seluruhnya makan nasi aking.

Sebenarnya, lanjut Purnomo, sebagian besar warganya sudah menerima BLT dari pemerintah. Namun sayangnya, bantuan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Purnomo hanya bisa berharap kepada pemerintah setempat agar membantu warga miskin dengan beras murah. “Saat ini harga beras terus naik. Beras dengan kwalitas rendah saja sudah Rp 6.500/Kg. Untuk itu kami berharap agar pemerintah memberikan bantuan beras murah,” kata Purnomo penuh harap.

sumber : Pos Kota

Bookmark and Share

Tidak ada komentar:

Related Posts with Thumbnails