Antara Jihad, Futuhat, dan Penjajahan

Untuk membenarkan tindakan biadab Israel, kelompok-kelompok liberal terus menerus berusaha memberikan citra negatif terhadap Islam. Sebaliknya selalu berusaha melegalkan tindakan biadab yang dilakukan oleh Israel. Salah satunya adalah menyamakan apa yang dilakukan oleh Israel dengan Islam seperti jihad dan futuhat (penaklukan). Islam kemudian dituding sama dengan Israel yang juga melakukan perampasan dan penjajahan. Tulisan berikut ini akan memperjelas perbedaan antara futuhat, jihad , dan penjajahan (imperialisme) [...]

Strategi AS Menghancurkan Dunia Islam

Salah satu strategi yang direkomendasikan RAND untuk merongrong gerakan kelompok-kelompok Muslim antara lain dengan mengganjal laju gerakan kelompok yang mereka sebut kelompok jihad salafis (yang berjuang yang mengikuti metode para salaf), dan Amerika menimbulkan pertentangan di kalangan mereka sendiri (di internal kelompok salafis) [...]

Aksi Ganyang Israel Dengan Jihad Dan Khilafah Di Cilacap

Kaum muslimin dari beberapa komponen bergabung dalam Aksi Ganyang Israel dengan Jihad dan Khilafah yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Cilacap, Ahad pagi (4 Januari 2009). Mereka adalah para santri dari Pondok Pesantren Darul Ishlah As-Salafiyah Gentasari Kroya, Santri Pesantren Hidayatullah Cilacap, dan anggota Himpunan Mahasiswa Syariah Institut Agama Islam Imam Ghozali Kesugihan Cilacap [...]

HTI Mitra Utama NU

Bagi bangsa Indonesia, HTI merupakan salah satu organisasi yang baru dan terbilang fenomenal karena sering tampil di layar televisi dengan posisi memberikan kritik tajam dan mendasar disertai solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara [...]
)

26 Juni 2009

Akal Busuk AS Coba Suap Dunia Islam

Menteri luar negeri Hillary Rodham Clinton telah menunjuk Farah Pandith sebagai perwakilan khusus bagi komunitas Muslim, memimpin kantor baru yang bertanggung jawab merangkul umat Muslim di seluruh dunia.

Menurut isi pernyataan yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri 23 Juni lalu, Perwakilan Khusus Pandith dan stafnya akan menjalankan upaya Clinton untuk “menjalin komunikasi dengan umat Muslim di seluruh dunia di level perorangan dan organisasi.”
Sebelumnya, Pandith adalah seorang penasihat kerjasama Muslim di departemen luar negeri, menjabat sebagai penasihat senior bagi asisten menteri luar negeri untuk urusan Eropa dan EurAsia. Ia juga pernah bekerja di Dewan Keamanan Nasional sebagai koordinator kebijakan AS dalam merangkul umat muslim, dan bekerja di Agensi AS untuk Pembangunan Internasional (U.S. Agency for International Development) dalam proyek-proyek bantuan untuk Irak, Afghanistan, dan Palestina.

Ketika menjabat sebagai penasihat senior untuk urusan Eropa dan EurAsia, tugas utama Pandith adalah memimpin sebuah gerakan yang menunjukkan pada umat Muslim di Eropa bagaimana caranya untuk melebur ke dalam masyarakat dan budaya Eropa. Beberapa upaya yang termasuk di dalamnya antara lain mempertemukan Muslim Amerika dengan Muslim Eropa dan membantu mereka “menghancurkan stereotype” dan mengakhiri “isolasi diri”.

Pandith, yang merupakan seorang Muslim, berimigrasi ke AS bersama orangtuanya dari Srinigar, India. Ia melihat pengalaman pribadinya sebagai sebuah ilustrasi tentang bagaimana imigran Muslim dapat mengintegrasikan dirinya dengan sukses ke dalam masyarakat Amerika.

Ia berkata bahwa sejalan dengan pentingnya pendidikan, “Saya juga belajar untuk menyeimbangkan rasa bangga terhadap warisan budaya saya dengan keterikatan yang dalam dengan nilai-nilai Amerika.”

Dalam pidatonya tanggal 4 Juni di Kairo, presiden Obama mengatakan bahwa ia sedang mencari “awal baru” antara AS dan Muslim “berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati, serta berdasarkan kebenaran bahwa Amerika dan Islam tidak eksklusif dan tidak harus saling berkompetisi.”

AS dan Islam berbagi prinsip umum yang sama tentang keadilan, perkembangan, toleransi, dan “harga diri semua umat manusia,” ujar Obama. Ia juga mendorong rakyat Amerika dan Muslim untuk berkomitmen dalam “upaya berkelanjutan untuk menemukan landasan bersama, untuk fokus pada masa depan bagi anak cucu kita, dan untuk menghormati harga diri semua manusia.”

Duta Besar Baru untuk Damaskus: Refleksi atas Peran Syria di Timur Tengah

Juru bicara departemen luar negeri, Ian Kelly, mengumumkan pada 24 Juni lalu bahwa pemerintahan Obama telah memutuskan untuk menunjuk seorang duta besar untuk Syria sebagai bagian dari sebuah “evolusi alamiah” dari kerjasamanya kembali dengan pemerintahan presiden Bashar al-Assad. Posisi itu telah kosong sejak 2005 ketika duta besar AS sebelumnya ditarik setelah terjadi pembunuhan terhadap perdana menteri Lebanon Rafiq Hariri.

“Kami siap untuk melangkah maju bersama Syria untuk meningkatkan kepentingan kita melalui dialog langsung dan berkelanjutan,” ujar Kelly, menambahkan bahwa AS terus memiliki kekhawatiran tentang peran Syria di Timur Tengah. “Kmai berpikir bahwa salah satu jalan untuk mengatasi kekhawatiran itu adalah dengan memiliki duta besar di Damaskus.”

Kelly mengatakan bahwa pejabat Syria telah diberitahu mengenai keputusan itu pada 23 Juni kemarin.

“Keputusan ini mencerminkan pengakuan pemerintah akan peran penting Syria di kawasan Timur Tengah. Dan tentu saja kami berharap mereka akan terus memainkan peran membangun itu untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan."

Dikutip oleh Pro Syariah dari www.suaramedia.com

Bookmark and Share

0 komentar: